Between Shadows and Light
“Every sacred place has its own rhythm. Some speak through prayers. Others through silence.”
Di tengah hiruk-pikuk Kota Surakarta, Kelenteng Tien Kok Sie menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar bangunan bersejarah atau tempat ibadah, melainkan ruang di mana waktu terasa berjalan lebih lambat.
Langkah kaki menjadi pelan.
Suara kota memudar.
Yang tersisa hanyalah cahaya yang menembus celah-celah bangunan, asap dupa yang bergerak perlahan, dan keheningan yang mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak.
Sebagai fotografer, saya datang membawa kamera.
Namun yang saya temukan bukan hanya gambar.
Saya menemukan suasana.
Where Light Becomes a Story
Fotografi sering kali bergantung pada cahaya.
Di dalam kelenteng ini, cahaya bukan hanya menerangi ruang. Ia membentuk suasana, menyoroti detail ukiran, memantul pada ornamen merah dan emas, lalu perlahan menghilang di antara bayangan.
Di sanalah saya menyadari bahwa cahaya dan bayangan tidak saling bertentangan.
Keduanya justru saling melengkapi, menghadirkan ruang yang tenang sekaligus penuh makna.