Tradition • Documentary • The Living Archive
“Seeing Stories Before They Disappear.”
Sebuah Tradisi yang Lebih Dalam dari Sekadar Atraksi
Bagi banyak orang, Debus sering dipandang sebagai pertunjukan yang menegangkan. Tubuh yang tampak kebal terhadap benda tajam, pecahan kaca, atau berbagai bentuk ujian fisik lainnya kerap menjadi pusat perhatian. Namun, ketika saya berdiri beberapa meter dari para pelaku Debus di sebuah padepokan di Banten, saya menyadari bahwa yang saya lihat bukan sekadar atraksi. Di balik setiap adegan terdapat disiplin, latihan panjang, keyakinan, dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Sebagai fotografer dokumenter, saya lebih tertarik pada manusia di balik ritual itu daripada sensasi yang tampak di permukaan.Sebuah Tradisi yang Lebih Dalam dari Sekadar Atraksi
Bagi banyak orang, Debus sering dipandang sebagai pertunjukan yang menegangkan. Tubuh yang tampak kebal terhadap benda tajam, pecahan kaca, atau berbagai bentuk ujian fisik lainnya kerap menjadi pusat perhatian. Namun, ketika saya berdiri beberapa meter dari para pelaku Debus di sebuah padepokan di Banten, saya menyadari bahwa yang saya lihat bukan sekadar atraksi. Di balik setiap adegan terdapat disiplin, latihan panjang, keyakinan, dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Sebagai fotografer dokumenter, saya lebih tertarik pada manusia di balik ritual itu daripada sensasi yang tampak di permukaan.Melihat, Sebelum Menekan Tombol Rana
Saya selalu percaya bahwa dokumentasi terbaik lahir dari kesabaran. Alih-alih mengejar momen paling dramatis, saya memilih mengamati ritme yang terjadi di sekitar saya. Percakapan kecil sebelum pertunjukan dimulai, ekspresi wajah yang penuh konsentrasi, tangan yang saling membantu, hingga jeda-jeda sunyi setelah ritual selesai. Foto-foto dalam seri ini berusaha memperlihatkan perjalanan tersebut. Bukan hanya aksi, tetapi juga proses yang membentuknya.Manusia yang Menjaga Tradisi
Setiap tradisi bertahan bukan karena bangunannya, melainkan karena ada manusia yang memilih untuk terus menjaganya. Dalam setiap wajah yang saya temui, saya melihat dedikasi yang tidak selalu mendapat sorotan. Mereka tidak hanya mempertahankan sebuah pertunjukan, tetapi juga menjaga identitas budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman. Mungkin inilah alasan mengapa saya selalu kembali pada fotografi dokumenter. Karena pada akhirnya, yang ingin saya abadikan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi siapa yang membuat tradisi itu tetap hidup.The Living Archive
Seri ini merupakan bagian dari The Living Archive, sebuah proyek dokumentasi visual yang berupaya mengarsipkan manusia, budaya, tradisi, dan kehidupan sehari-hari di Indonesia. Bukan untuk membekukan masa lalu, melainkan untuk meninggalkan jejak tentang bagaimana sebuah bangsa hidup melalui orang-orang yang menjaganya. Setiap foto adalah satu halaman kecil dari arsip yang terus bertambah.Field Notes
Selama berada di padepokan, saya belajar bahwa Debus bukan hanya soal keberanian menghadapi rasa sakit. Di balik setiap ritual terdapat disiplin, kebersamaan, doa, dan penghormatan terhadap warisan budaya. Kamera saya hanya merekam beberapa detik, tetapi tradisi ini telah hidup jauh sebelum saya datang dan akan terus berjalan setelah saya pergi.Story Information
- Archive No. TLA-005
- Title Ritual Keteguhan: Debus dari Tanah Jawara
- Location Padepokan Parukuyan, Banten, Indonesia
- Category Documentary • Tradition • Culture
- Captured With Fujifilm X-S20 & Nikon D7000
- Project The Living Archive